Pratikno Dorong Mahasiswa Bangun Growth Mindset dan Skill T-Shaped

TAJUKREPORTASE – COM – SEMARANG – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mendorong mahasiswa baru untuk membangun growth mindset, learning agility, integritas, dan keterampilan T-shaped sebagai bekal menghadapi perubahan dunia yang semakin dinamis.

Hal tersebut disampaikan Pratikno saat mengisi materi dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Agung Putra University (APU), Semarang, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026).
Pratikno mengapresiasi minat mahasiswa baru terhadap sejumlah bidang studi yang dinilai relevan dengan kebutuhan dan tantangan masa depan, khususnya bioteknologi dan biomedis.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai bidang keilmuan utama. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, bekerja sama, serta memahami perkembangan di luar bidang yang ditekuni.

“Yang penting bagi kita itu adalah growth mindset. Tantangan dalam proses belajar itu terus ada, tidak bisa itu wajar. Yang penting berani mencoba. Itulah yang sangat penting Anda sebagai anak muda punya growth mindset, mindset untuk tumbuh, belajar terus. Kalau enggak bisa coba lagi, jangan pernah lelah untuk belajar,” ujar Pratikno.

Ia menjelaskan keterampilan T-shaped merupakan kemampuan yang menggabungkan keahlian mendalam pada satu bidang dengan wawasan luas terhadap berbagai bidang lainnya.

Garis vertikal pada konsep tersebut, kata Pratikno, menggambarkan keahlian utama yang perlu dipilih, ditekuni, dilatih, dan diwujudkan dalam karya. Sementara garis horizontal mencerminkan wawasan luas, seperti komunikasi, teknologi, kerja sama, serta pemahaman terhadap masyarakat.

“Garis tegak, satu keahlian utama. Pilih, tekuni, latih, jadikan karya. Garis datar, wawasan luas: kerja sama, komunikasi, teknologi, memahami masyarakat,” jelasnya.

Selain T-shaped skills, Pratikno menekankan pentingnya learning agility, yakni kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi ketika menghadapi perubahan.

Ia mengatakan mahasiswa tidak harus selalu menempuh jalur pendidikan yang linear. Menurutnya, keberanian mengambil bidang studi yang berbeda pada jenjang pendidikan lanjutan juga dapat menjadi bagian dari proses menjadi pembelajar sejati.

“Bisa lulus S1 lanjut linear S2 itu wajar, tetapi melanjutkan studi lanjut yang tidak linear dan sukses lulus itu adalah pembelajar sejati,” ujarnya.

Jangan Jadikan Ijazah Ukuran Utama
Pratikno juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memiliki gelar sarjana membuat nilai seseorang ke depan tidak hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi juga oleh karya, kontribusi, dan manfaat yang diberikan kepada lingkungan.

“Jangan hanya terbebani, bahwa saya harus sarjana. Itu betul, ijazah betul, tapi hampir semua orang punya ijazah. Nanti ke depan semua orang punya ijazah sarjana, makin inflasi, tidak ada harganya ijazah. Yang dihargai orang adalah pada akhirnya adalah apa yang pernah Anda perbuat, karya apa yang pernah Anda produksi, kontribusi apa yang pernah Anda lakukan,” katanya.

Ia pun mendorong mahasiswa membangun integritas sejak berada di bangku kuliah. Pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan, menurutnya, harus diwujudkan dalam karya dan kontribusi nyata.

“Pada akhirnya Anda bisa jujur walau tidak diawasi, Anda selalu berkarya walau tidak diuji, Anda bermanfaat walaupun tidak ada kamera yang mengikuti. Inilah kontribusi nyata untuk bangsa,” pungkasnya.

Kuliah Jadi Ruang untuk Tumbuh
Pratikno turut membagikan perjalanan pendidikannya sejak tumbuh di Bojonegoro hingga menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia mengenang berbagai keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi selama masa sekolah. Menurutnya, pengalaman tersebut justru menjadi ruang untuk membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemauan untuk terus berkembang.

“Belajar di kampus ini benar-benar kesempatan Anda untuk tumbuh. Jangan sampai di kampus hanya sekadar sampingan daripada tidak keterima pekerjaan. Kuliah adalah tempat untuk tumbuh,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pratikno juga berinteraksi dengan mahasiswa baru APU. Ia mengapresiasi keberanian mahasiswa tampil menjawab pertanyaan, termasuk menggunakan bahasa Inggris.

Pratikno juga mengapresiasi program studi yang ditawarkan APU yang dinilai relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia industri, yakni S1 Ilmu Biomedis, S1 Bioteknologi, S1 Hukum, S1 Manajemen, S1 Ilmu Komunikasi, S1 Kebidanan, dan D3 Kebidanan.

Ia turut mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, membangun hubungan sosial dan spiritual yang baik. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan manusia yang sehat, berkarakter, kompeten, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

error: Content is protected !!