Wamendagri Bima Arya: Bonus Demografi Hanya Datang Sekali, Generasi Muda Harus Siap Pimpin Indonesia Emas 2045

GARUT – TAJUK REORTASE COM –  Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa Indonesia hanya memiliki satu kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi sebagai momentum keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) menuju negara maju. Menurutnya, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda dipersiapkan menjadi pemimpin yang berkarakter, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menghadapi tantangan global.

Hal tersebut disampaikan Bima saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Generasi Adaptif di Era Bonus Demografi: Membangun Kepemimpinan Digital, Kompetensi Masa Depan, dan Kolaborasi untuk Indonesia 2045” dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Garut pada Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan XLIV Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Garut, Jawa Barat, Senin (27/7/2026).

Bima menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki modal besar berupa dominasi penduduk usia produktif. Namun, bonus demografi tidak akan otomatis membawa Indonesia menjadi negara maju apabila tidak diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Indonesia akan menjadi negara maju kalau kita bisa naik kelas dalam waktu 20 tahun. Masalahnya adalah kita hanya akan bisa naik kelas kalau bisa memanfaatkan bonus demografi,” ujar Bima.

Ia menilai perkembangan transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah kebutuhan dunia kerja maupun tata kelola pemerintahan. Karena itu, generasi muda dituntut menguasai berbagai kompetensi masa depan, seperti AI, big data, ilmu komputer, robotika, sistem informasi, hingga analisis data.

Sebagai contoh implementasi transformasi digital di lingkungan pemerintahan, Bima mengungkapkan Kementerian Dalam Negeri telah memanfaatkan teknologi AI dalam pengelolaan talenta aparatur sipil negara (ASN). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penempatan ASN lebih tepat sesuai kompetensi yang dimiliki.
Meski demikian, Bima menekankan bahwa karakter tetap menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan seseorang.

Menurutnya, penguasaan teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa dibarengi integritas, disiplin, kejujuran, kemampuan beradaptasi, dan semangat belajar sepanjang hayat.

“Kalau saya ditanya mana yang lebih menentukan, kompetensi atau karakter, saya katakan 70 sampai 80 persen adalah tentang karakter,” tegasnya.
Ia juga mengajak para wisudawan menjadi pemimpin yang terbuka terhadap perbedaan, mampu berkolaborasi, membangun jejaring yang luas, serta menjaga keseimbangan hidup. Menurutnya, kepemimpinan masa depan tidak hanya diukur dari kemampuan individu, tetapi juga dari kemampuan bekerja sama dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, Bima mengingatkan pentingnya menjadikan adab sebagai fondasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Karakter yang baik, ujarnya, akan membentuk pola pikir, memengaruhi tindakan, melahirkan kebiasaan positif, dan pada akhirnya menentukan masa depan seseorang.

Bima optimistis inovasi, kepemimpinan, serta semangat pengabdian para lulusan Universitas Garut akan menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan Kabupaten Garut sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

error: Content is protected !!