JAKARTA – TAJUK REPORTASE COM – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kelestarian batik Indonesia di tengah tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta maraknya produk bermotif batik yang bukan merupakan batik asli.
Pesan tersebut disampaikan Pratikno saat menghadiri Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, Jumat (10/7).
Menurut Pratikno, batik bukan hanya simbol identitas budaya bangsa yang telah diakui dunia, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
“Warisan budaya ini harus terus kita pertahankan. Bukan hanya menjadi cerminan budaya luhur bangsa, tetapi juga menghidupi jutaan perajin dan pengusaha,” kata Pratikno.
Ia mengapresiasi Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) beserta seluruh perajin yang terus menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya sekaligus kekuatan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu, Pratikno menilai tema Pagelaran Seni Batik Indonesia tahun ini, “Rupa Makna Tambal Nusantara”, memiliki makna mendalam karena memadukan ragam motif batik dari berbagai daerah sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa industri batik saat ini menghadapi tantangan baru. Selain maraknya kain bermotif batik hasil cetak, perkembangan teknologi AI juga dinilai berpotensi menggeser kreativitas dan orisinalitas karya para pembatik.
“Kita harus sama-sama mempertahankan dan mengembangkan batik. Gempuran memang sedang terjadi, banyak otomasi, bahkan kecerdasan buatan juga berpotensi menggerus batik kita. Tetapi saya yakin, kalau kita bersatu, kita bisa menghadapinya,” ujarnya.
Pratikno optimistis batik akan tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Ia mencontohkan bagaimana batik yang sempat mengalami penurunan popularitas pada awal 2000-an kini kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik sebagai busana resmi maupun pakaian sehari-hari.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keaslian batik Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri kreatif nasional. Masyarakat pun diajak mendukung perajin lokal dengan membeli produk batik asli.
Ajakan tersebut diperkuat melalui kampanye bertajuk “Asli Batiknya, Asli Harganya, dan Asli Perajinnya”, sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga keaslian karya para pembatik.
“Mari kita sama-sama menjaga batik Indonesia terus berkembang, menjadi kekuatan diplomasi budaya Indonesia sekaligus menghidupi banyak perajin dan pelaku UMKM,” tutur Pratikno.
Acara tersebut juga diwarnai peluncuran karya agung Batik Puspawicitra karya Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi dan pelestarian seni batik Nusantara.
Hadir dalam kegiatan itu antara lain Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X, Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia Komarudin Kudiya, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita, serta para perajin batik, pelaku UMKM, dan Komunitas Cinta Berkain.














