JAKARTA – TAJUK REPORTASE – COM –Kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal positif pada pertengahan 2026. Inflasi Juli tercatat menurun, aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi, sementara neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2026 masih mencatat surplus.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
“Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Airlangga dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta.
Berdasarkan data yang dirilis pada Rabu (5/8), inflasi Indonesia pada Juli 2026 mencapai 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut turun dibandingkan inflasi Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen.
Penurunan inflasi terutama dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan strategis, antara lain bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit seiring meningkatnya produksi di sejumlah sentra.
Sementara itu, inflasi inti masih terkendali di level 2,76 persen yoy. Adapun inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered prices tercatat 3,58 persen yoy.
Pemerintah menilai kondisi tersebut menunjukkan kebijakan pengendalian inflasi dan stabilisasi pangan berjalan cukup efektif. Sejumlah program yang dilakukan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta optimalisasi distribusi pangan antarwilayah.
Selain pengendalian harga, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan, penyediaan pupuk dan benih, mekanisasi pertanian, hingga penguatan infrastruktur logistik.
Dari sisi pembiayaan, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp198,9 triliun hingga 28 Juli 2026 dari plafon Rp290,59 triliun. Sekitar 38 persen realisasi tersebut mengalir ke sektor pertanian.
Pemerintah juga meluncurkan Kredit Usaha Pertanian sebagai pengembangan dari skema Kredit Usaha Alsintan untuk mendukung produktivitas pertanian, hilirisasi, swasembada, dan ketahanan pangan.
Neraca Perdagangan Masih Surplus
Perbaikan juga terlihat dari sektor perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$3,58 miliar sepanjang Januari-Juni 2026.
Surplus tersebut ditopang oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$19,35 miliar. Di sisi lain, defisit migas tercatat US$15,77 miliar.
Khusus Juni 2026, defisit perdagangan menyempit 72,02 persen secara bulanan menjadi US$450 juta dari US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Perbaikan tersebut didorong oleh peningkatan surplus nonmigas menjadi US$3,04 miliar dari US$2,15 miliar. Pada saat yang sama, defisit migas menyusut menjadi US$3,49 miliar dari US$3,75 miliar.
Kinerja ekspor juga menunjukkan penguatan. Ekspor CPO dan turunannya tercatat naik 7,32 persen menjadi US$12,27 miliar. Sektor industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekspor dengan kontribusi 6,18 persen.
Dari sisi impor, struktur impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan barang penolong serta barang modal. Nilainya masing-masing mencapai US$97,95 miliar dan US$27,36 miliar.
Kedua kelompok tersebut mencakup sekitar 91,3 persen dari total impor, sedangkan barang konsumsi hanya sekitar 8,7 persen.
Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 17,43 persen serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 19,63 persen dinilai menjadi indikasi meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
Manufaktur Kembali Ekspansi
Sinyal positif lainnya datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 kembali masuk zona ekspansi dengan skor 50,2, naik dari 46,9 pada Juni.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya pesanan baru yang kemudian mendorong pertumbuhan output untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.
Perusahaan manufaktur juga mulai menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan seiring pemulihan pesanan.
Kenaikan backlog juga tercatat pada laju tercepat sejak November 2025. Kondisi rantai pasok yang mulai membaik turut memberikan dukungan terhadap pemulihan aktivitas manufaktur.
Kinerja manufaktur Indonesia tersebut sejalan dengan PMI Manufaktur ASEAN yang meningkat menjadi 52,8 dari sebelumnya 50,5.
Optimisme pelaku industri juga berada di level tertinggi sejak Januari 2026. Meski demikian, pelaku industri masih menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan ekspor, tekanan biaya produksi, dan hambatan rantai pasok.
Pemerintah menilai kombinasi inflasi yang terkendali, manufaktur yang kembali ekspansi, serta perbaikan neraca perdagangan menjadi indikasi bahwa perekonomian nasional berada di jalur pemulihan.
Airlangga mengatakan pemerintah akan terus menjaga momentum tersebut melalui kebijakan yang antisipatif dan responsif.
“Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional,” kata Airlangga.
Pemerintah optimistis tren tersebut dapat terus berlanjut sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif, dan pertumbuhan ekonomi nasional berlangsung secara berkelanjutan.















