TAJUKREPORTASE – COM – JAKARTA –Suasana di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) di Jakarta kini tak lagi hanya identik dengan tembok tinggi dan jeruji besi. Pada Sabtu (5/9/2026), Kantor Wilayah (Kanwil) Pemasyarakatan Daerah Khusus (DK) Jakarta menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih hangat melalui program Kunjungan Anak.
Program yang digelar serentak di tujuh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Jakarta itu secara khusus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertemu dengan orang tua mereka yang sedang menjalani masa pidana.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Pemasyarakatan DK Jakarta, Wachid Wibowo, mengatakan program tersebut merupakan inovasi pelayanan yang digagas untuk menjawab kebutuhan anak yang selama ini terkendala waktu kunjungan karena masih harus mengikuti kegiatan sekolah.
“Jadi memang kita kemarin hari Sabtu di Jakarta, ada tujuh Unit Pelaksana Teknis (UPT), Rutan dan Lapas serentak melaksanakan kegiatan kunjungan khusus untuk anak,” ujar Wachid saat ditemui di kantornya.
Menurutnya, Kunjungan Anak merupakan program baru Kanwil Ditjenpas DK Jakarta yang tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan pelayanan, tetapi juga memiliki dimensi pembinaan bagi warga binaan.
“Kami melihat bahwa anak ini kan saat ini sedang membutuhkan perhatian, perhatian orang tua. Dan kasih sayang juga orang tua,” katanya.
Wachid menjelaskan, selama ini jadwal kunjungan pada hari Senin hingga Kamis bertepatan dengan jam sekolah. Kondisi tersebut membuat anak-anak memiliki keterbatasan untuk bertemu dengan orang tua mereka yang berada di Lapas maupun Rutan.
Persoalan itulah yang kemudian menjadi salah satu perhatian Wachid setelah mulai menjabat sebagai Kakanwil Pemasyarakatan DK Jakarta.
“Saat saya baru menjabat sebagai Kakanwil, kami mengumpulkan seluruh KUP di Jakarta, sekaligus mendiskusikan dan membicarakan. Disepakatilah adanya program baru khusus untuk kunjungan anak-anak,” jelasnya.
Wachid menegaskan, pertemuan antara anak dan orang tua di balik jeruji bukan sekadar agenda kunjungan. Ada tujuan pembinaan yang lebih luas, terutama dalam menjaga hubungan emosional antara warga binaan dengan keluarganya.
“Tujuan dari kunjungan ini selain untuk pembinaan bagi warga binaan, tapi juga bermanfaat untuk perkembangan anak,” ujarnya.
Ia pun memberikan apresiasi kepada seluruh Kalapas dan Karutan beserta jajaran yang telah menjalankan program perdana tersebut.
Wachid mengaku telah menerima berbagai tanggapan positif mengenai pelaksanaan Kunjungan Anak.
“Saya sendiri melihat dan juga mengevaluasi kegiatan kemarin. Saya berterima kasih kepada seluruh UPT, Kalapas, Karutan di Jakarta yang sudah melaksanakan kegiatan kunjungan yang saya lihat berjalan dengan baik. Pelayanannya juga baik,” ungkapnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pelayanan Pemasyarakatan kepada masyarakat.
Keseriusan Kanwil Pemasyarakatan DK Jakarta dalam menghadirkan layanan yang ramah anak juga dibarengi dengan komunikasi bersama kementerian yang menangani urusan perempuan dan anak.
Wachid mengatakan koordinasi tersebut penting agar pelaksanaan program tetap memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anak.
“Kami sendiri juga terus menjalin komunikasi dengan Kementerian Perempuan dan Anak. Memang instansi terkait dengan anak ini, mereka membutuhkan perhatian yang lebih dari orang-orang terdekat,” katanya.
Selain memberikan ruang bagi anak untuk tetap mendapatkan kasih sayang orang tua, menurut Wachid, kunjungan tersebut juga diharapkan menjadi motivasi bagi warga binaan selama menjalani proses pembinaan.
Untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman, sejumlah UPT juga menyiapkan area khusus bagi anak-anak yang datang berkunjung.
Tidak hanya ruang pertemuan, fasilitas bermain turut disiapkan agar anak tidak merasa sedang berada di lingkungan Lapas atau Rutan.
“Jadi untuk ruang pertemuan, kami juga ada space yang disiapkan oleh teman-teman di UPT, baik Lapas maupun Rutan. Ada tempat-tempat bermain untuk anak,” jelas Wachid.
Ia berharap ruang tersebut dapat didesain sedemikian rupa sehingga benar-benar ramah dan nyaman bagi anak.
“Tempat bermain anak ini juga kita harapkan tidak melihat bahwa ini lingkungan Lapas atau Rutan. Jadi kita butuh desain sedemikian rupa sehingga tempat bermainnya anak ini memang betul-betul bisa dimaksimalkan, dioptimalkan, dipergunakan oleh anak-anak karena mereka kan masih senang untuk bermain,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, Kunjungan Anak tetap berada dalam koridor aturan Pemasyarakatan. Wachid mengatakan, program tersebut diperuntukkan bagi pengunjung anak berusia 18 tahun ke bawah yang masih berstatus pelajar dan dapat dibuktikan melalui identitas.
“Kalau untuk membesuk, kita kan sudah memberikan aturan secara umum dari Kanwil dan UPT melaksanakannya. Karena ini anak-anak, berdasarkan Undang-Undang Peradilan Anak, itu kan sampai umur 18 tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak ada pembedaan bagi warga binaan untuk menerima kunjungan, sepanjang tidak sedang menjalani hukuman disiplin atau mendapatkan pencabutan hak kunjungan akibat pelanggaran tata tertib.
“Secara umum kami tidak membedakan warga binaan terkait dengan perilaku mereka. Kalau mereka melanggar tata tertib dan mendapatkan hukuman karena pelanggarannya, yang salah satunya haknya dicabut untuk menerima kunjungan, berarti dia tidak bisa mendapatkan kunjungan,” tegas Wachid.
Aspek pelayanan juga menjadi perhatian. Karena berhadapan langsung dengan anak-anak, petugas yang ditunjuk untuk menangani layanan tersebut diberikan perhatian khusus.
“Karena kan ini anak-anak yang perlu perhatian khusus dan pendekatan yang berbeda. Biasanya petugas perempuan itu lebih diutamakan karena sifat keibuannya,” kata Wachid.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat anak merasa lebih aman, nyaman, dan tidak canggung selama berada di lingkungan Lapas maupun Rutan.
Untuk tahap awal, program Kunjungan Anak dilaksanakan sebulan sekali, setiap Sabtu pada minggu pertama.
Namun, pola tersebut tidak bersifat final. Kanwil Pemasyarakatan DK Jakarta akan melakukan evaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan efektivitas pelayanan, kondisi anak, serta kesiapan petugas dan UPT.
“Untuk saat ini kami melaksanakan kegiatan kunjungan khusus anak ini dalam sebulan sekali di hari Sabtu di minggu pertama setiap bulan. Tentunya kami akan melihat dan juga mengevaluasi agar peningkatan pelayanan terhadap masyarakat semakin meningkat ke depannya,” ujar Wachid.
Menurutnya, inovasi pelayanan tidak boleh hanya mengejar kemudahan bagi masyarakat tanpa memperhitungkan aspek keamanan dan ketertiban di dalam Lapas dan Rutan.
“Dikarenakan ini berkaitan juga dengan tugas dan tanggung jawab teman-teman di lapangan, tidak hanya kita memikirkan terkait dengan pelayanan, tapi kita juga harus memikirkan faktor keamanan dan ketertiban,” tegasnya.
Pemilihan Sabtu juga bukan tanpa alasan. Hari tersebut dinilai lebih memungkinkan bagi anak-anak untuk datang karena tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah.
“Makanya kami memunculkan inovasi baru ini karena mempertimbangkan bahwa anak ini tidak bisa bertemu dengan keluarganya pada saat jam ataupun hari sekolah. Sehingga kami laksanakan di hari Sabtu, karena di hari Sabtu sekolah kan kita lihat libur,” jelasnya.
Wachid menegaskan, keberhasilan Pemasyarakatan tidak hanya ditentukan oleh petugas di dalam Lapas dan Rutan. Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjalankan fungsi pelayanan, perawatan, pembinaan, pembimbingan, hingga menjaga keamanan dan ketertiban.
Ia pun mengingatkan seluruh jajaran agar bekerja berdasarkan ketentuan sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat.
“Yang jelas kami, terutama saya, terus mengingatkan kepada seluruh jajaran di Kanwil dan Pemasyarakatan di Jakarta untuk betul-betul bekerja sesuai dengan ketentuan, sesuai dengan aturan, dan terus membuka ruang untuk keterlibatan dari berbagai masyarakat,” katanya.
Wachid berharap berbagai inovasi pelayanan yang dilahirkan Pemasyarakatan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap ke depan tentunya Pemasyarakatan ini betul-betul bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan yang menjadi arah pelayanan Pemasyarakatan di DK Jakarta: “Dari Pemasyarakatan untuk masyarakat, tetap jalan.”















