JAKARTA — TAJUK REPORTASE COM – Komisi XIII DPR RI mengapresiasi inovasi pembinaan yang diterapkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengganti hukuman isolasi bagi warga binaan dengan kewajiban membaca buku dan menulis esai.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menilai pendekatan tersebut menjadi bentuk baru pembinaan pemasyarakatan yang lebih humanis dan berorientasi pada perubahan perilaku jangka panjang.
Pendekatan yang mengubah sanksi disiplin menjadi sarana pembelajaran melalui kegiatan membaca dan menulis merupakan langkah positif yang sejalan dengan semangat transformasi pemasyarakatan,” kata Sugiat dalam keterangannya, Minggu (14/6).
Menurut dia, program literasi itu bukan hanya membangun budaya membaca di lingkungan rutan, tetapi juga menanamkan nilai karakter, tanggung jawab, dan kesadaran diri kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Program tersebut diterapkan dengan memanfaatkan perpustakaan dan pojok baca di dalam rutan. WBP yang melanggar aturan tidak lagi langsung ditempatkan di sel isolasi, melainkan diwajibkan membaca buku tertentu, membuat resume atau esai refleksi, hingga mempresentasikan hasil bacaannya di hadapan petugas.
Sugiat menyebut langkah itu dapat menjadi model pembinaan baru di lembaga pemasyarakatan di Indonesia.
Ia juga menilai penyediaan buku-buku biografi tokoh bangsa, termasuk Presiden Prabowo Subianto, memiliki nilai strategis dalam membangun karakter warga binaan.
Buku biografi bukan sekadar bacaan pengisi waktu, tetapi juga instrumen transfer nilai tentang kepemimpinan, disiplin, integritas, dan semangat pengabdian kepada bangsa,” ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Rutan Kelas I Surabaya Tristiantoro Adi Wibowo mengatakan program “Literasi Pemasyarakatan, Gerakan Membaca Warga Binaan” diterapkan untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih permanen.
Menurut Adi, hukuman fisik atau isolasi kerap memicu resistensi psikologis dan tidak selalu efektif membangun kesadaran warga binaan.
Kami meyakini perubahan perilaku yang bertahan lama lahir dari kesadaran, bukan sekadar hukuman. Karena itu warga binaan kami dorong membaca dan menulis esai sebagai sarana refleksi diri,” kata Adi.
Komisi XIII DPR RI berharap model pembinaan berbasis literasi tersebut dapat direplikasi di berbagai lapas dan rutan di Indonesia, terutama di tengah persoalan kelebihan kapasitas dan keterbatasan personel pengamanan.
Sugiat menilai inovasi tersebut layak menjadi inspirasi nasional dalam menghadirkan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan berdampak nyata terhadap pembangunan karakter warga binaan.















