Lulus Predikat Cumlaude, Kristina Kriswindiani Zai Wisudawati Non Muslim UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, Sosok Kristina Kriswindiani Zai, S.Si.,wisudawati UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampil pada Wisuda ke-140, Minggu (24/5/2026)

Perempuan Lulusan Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) itu menjadi salah satu wisudawati non-muslim yang berhasil menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude di kampus berbasis keislaman.

Di balik toga yang dikenakan dan senyum manisnya, tersimpan cerita perjalanan penuh rasa penasaran, keraguan, sekaligus pengalaman baru tentang keberagaman dan toleransi. Semua itu bermula saat Kristina dinyatakan diterima di UIN Jakarta melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2021.

Alih-alih langsung percaya diri, Kristina justru diliputi perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia karena berhasil lolos di perguruan tinggi negeri, tetapi di saat yang sama muncul pertanyaan dalam dirinya tentang bagaimana nantinya menjalani kehidupan di kampus Islam negeri.

“Sempat senang karena keterima, tapi juga ragu. Aku bisa masuk nggak ya? Bisa nyaman nggak ya di sini?” kenangnya.

Pilihan Kristina berkuliah di UIN Jakarta sendiri berawal dari pencariannya terhadap perguruan tinggi negeri di Jakarta yang memiliki Program Studi Fisika. Namun di balik itu, ada rasa penasaran yang membuatnya ingin mencoba lingkungan baru yang berbeda dari latar belakangnya sebagai non-muslim.

“Aku cari perguruan tinggi negeri di Jakarta yang punya Prodi Fisika, dan ternyata ada di UIN Jakarta. Sekalian juga penasaran, apakah non-muslim bisa kuliah di UIN Jakarta,” katanya Minggu (24/5/2026)

Rasa ragu yang sempat muncul perlahan mulai hilang setelah ia menjalani hari-hari sebagai mahasiswa. Meski sempat mengalami kesulitan beradaptasi, terutama memahami budaya kampus dan aturan berpakaian, Kristina mengaku lingkungan di sekitarnya justru membantunya merasa nyaman.

“Awalnya bingung soal prosedur berpakaian dan penyesuaian lainnya. Tapi teman-teman di kampus dan di prodi sangat baik dan suportif,” katanya.

Seiring waktu, pengalaman kuliah di UIN Jakarta justru memberinya banyak cerita baru yang sebelumnya jarang ia temui. Berasal dari lingkungan yang tidak banyak bersentuhan dengan tradisi keislaman, Kristina mulai mengenal lebih dekat berbagai budaya dan kegiatan keagamaan Islam melalui kehidupan kampus sehari-hari.

Ia kerap melihat bahkan ikut merasakan semangat berbagai kegiatan keagamaan bersama teman-temannya. Dari pengalaman itulah, Kristina merasa wawasannya tentang keberagaman semakin terbuka.

“Seru banget karena jadi tahu lebih banyak tentang budaya dan tradisi keislaman. Jadi nambah wawasan juga,” ujarnya.

Tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, Kristina juga menorehkan capaian akademik membanggakan. Ia lulus dengan IPK 3,62 dan predikat cumlaude. Dalam skripsinya, ia mengangkat penelitian berjudul Rancang Bangun Sistem Deteksi Tingkat Kematangan Buah Tomat Berbasis Sensor TCS3200 Dengan Indikator Audio. Penelitian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya selama menempuh studi di Program Studi Fisika FST UIN Jakarta.

Dengan pengalaman tersebut, Kristina menarik kesimpulan penting tentang kampus Islam negeri. Bagi Kristina, UIN Jakarta bukan hanya tempat menempuh pendidikan, tetapi juga ruang belajar tentang toleransi dan keterbukaan.

Di akhir ceritanya, Kristina mengungkapkan bahwa kampus Islam seperti UIN Jakarta terbuka untuk seluruh mahasiswa dari berbagai latar belakang keyakinan, tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu.

“Non-muslim boleh banget kuliah di UIN Jakarta. Setelah masuk dan menjalani perkuliahan di sini, ternyata suasananya nyaman dan terbuka, tidak seperti anggapan sebagian orang di luar sana,” pungkasnya.