Jakarta, Mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Purn) DR. Drs. H. Anton Charliyan., MPKN yang lebih dikenal Abah Anton Charly, tokoh Nasional Budayawan Sunda yang sehari harinya berprofesi juga sebagai Dosen di STISIP , menjadi Nara Sumber dalam Seminar Nasional di Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung di Aula Sastra Jepang mengambil Judul Anti Stunting Dalam Naskah Sunda Kuno, Minggu (24/5/2026)
Hadir dalam seminar tersebut sebagai Nara sumber, Prof Dr Nurhayati R. M Hum Dari Unhas. , Warek Fib Unpad , Dr Elis N Suryani, Dr Undang Ahmad Darsa Dari Unpad, Dr Wina Erwina PhD dari Univ Komunikasi , dan Abah Dr Anton Charly sendiri Dari STISIP Tasikmalaya , dengan moderator Dr Rahmat Sopian Dari FIB Unpad.
Anton Charliyan Ketua umum Majelis Adat Sunda mengatakan, intinya bisa disimpulkan bahwa ternyata Program Anti Stunting sudah tercatat dalam Naskah Naskah Peninggalan leluhur kita sejak dulu, antara lain sudah ada dalam Naskah Sunda kuno yaitu : Sanghyang Titisjati Pralina yang memandu dengan Terperinci bagaimana harus Merawat Bayi mulai dari Kandungan 1 bulan, sampai 10 bulan, serta mengurusnya sampai menjadi Balita yang Sehat dan Kuat.
“Lain lagi yg dicatat dlm Naskah laga ligo . Bahwa setiap ibu Hamil dan anak Balita wajib makan ikan, terutama ikan laut. Agar pertumbuhan badanya tinggi dan sehat, sebab bila nanti melahirkan bayi yang pendek dan tidak Sehat akan di buang ke Pulau Terpencil, sehingga dengan demikian setiap masyarakat Bugis yang sedang mengandung berlomba untuk konsumsi makanan sehat dan bergizi Sejak dini karena takut di buang ke nPulau terpencil,” jelas Anton Charliyan, Minggu (24/5/2026)
Naskah Kuno lain misal di Bali dikenal dengan Lontar Ushada Taru Pramana Mencatat Khasiat Ratusan Tanaman obat termasuk Stunting, di Jawa Serat Centini, Naskah Merapi Merbabu yang mencatat tentang cara meracik Jamu, teknik pijat urut, Teknik Pernapasan/ Yoga, sampai kepada olah tubuh utk menghilangkan berbagai Penyakit.
Ditambah dg Doa khusus yang dikenal Dengan Mantra,” ucap Anton Charliyan.
Lebih lanjut Anton Charliyan mengungkapkan di Sumatra, Pusataka Laklak yang mencatat tentang Ramuan obat dan Mantra Magis. Adapun teknik Perawatan dan Pengobatan Anti Stunting di masa lalu dilakukan dengan berbagai metode yakni :
1. Filo Therafy : Meracik jamu/ ushada, obat rempah & minyak
2. Therafy Pijat urut akhlinya disebut Paraji, dukun Patah tulang dll
3. Methode Spiritual : Dengan Mantra, Puasa, Isim, tolak bala dlm bentuk Benda, Kain rajah, tanaman, logam, batu mulia.
“Memasuki abad 19 karena budaya Baca tulis sudah mulai memasyarakat Ilmu ilmu Pengobatan tersebut baik methoda Ushada / ramuan Jamu maupun Mantra tsb, dicatat dlm bentuk buku yang dikenal sebagai Primbon atau Paririmbon,” terang Abah Anton.
“Khusus untuk Mantra Sebagai methode Pengobatan Spiritual, banyak juga memadukan tradisi leluhur dengan ajaran Islam dalam bentuk ilmu Suluk dan Thasawuf. Ilmu ini di yakini oleh kalangan masyarakat banyak saat itu sbg Ilmu Pengobatan yang Ampuh dan praktis, karena kekuatan doa merupakan sesuatu yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan menyelesaikan berbagai masalah manusia,” urai Abah Anton.
“Apalagi jika di Terapkan oleh ahlinya yang dianggap sebagai orang Suci seperti, Wali, Ahli Suluk, Resi, Pandita, Brahmana tapi sekarang yang menggunakan mantra lebih dikenal sbg Dukun yang malah diragukan ke ampuhanya,” imbuhnya.
“Tapi kalo dulu memang pengobatan Spiritual itu di laksanakan betul2 oleh ahlinya. Sehingga menjadi salah satu methoda Pengobatan yg diakui keberadaanya,” jelas Abah Anton.
“Itulah sekelumit Stunting yang akhirnya tidak terlepas dari methoda Pengobatan dan kesehatan yang ternyata sudah dilakukan para pendahulu kita, dibuktikan dg ditemukannya Naskah2 Kuno, seperti yang dipaparkan diatas tadi seperti Naskah Sanghyang Titisjati Pralina, lontara Lagaligo, Lontar Ushada Taru Pramana, Serat Centini, Pustaka Laklak, Kidung Kawedar Sunan Jalihaga, Kidung Rumekso ing Weng,”
Naskah Naskah Berharga tsb , kini tersimpan di Musium Nasional yg ditemukan sekitar abad ke 14 – abad 19 M.
“Luar biasa peninggalan para leluhur kita, dan jika Anda tertarik silahkan datang ke Musium Nasional atau Musium Sri Baduga Maharaja di Tegalega kota Bandung,” tutup Abah Anton






