Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026 di Yogyakarta, Tampilkan Ratusan Kain Tradisional Nusantara

JAKARTA – TAJUK REPORTASE COM – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta, Jumat (5/6).

Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 itu menampilkan kekayaan wastra dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi identitas budaya, nilai filosofis, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Fadli mengatakan Indonesia memiliki keragaman budaya yang tercermin melalui berbagai jenis wastra, mulai dari batik, songket, tenun, hingga kain tradisional lainnya yang berkembang di berbagai daerah.

Di balik setiap ekspresi budaya tersebut tersimpan filosofi, harapan, bahkan doa yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Fadli dalam sambutannya.
Menurut dia, wastra tidak hanya menjadi identitas budaya bangsa, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

Fadli menilai pengakuan internasional terhadap batik dan kebaya menunjukkan bahwa produk budaya Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat di tengah peradaban dunia.

Selain nilai budaya, ia juga menyoroti besarnya potensi ekonomi yang dimiliki sektor wastra. Industri kain tradisional dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin, pembatik, penenun, dan komunitas budaya di berbagai daerah.

Wastra dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif karena mudah dikenali dan menjadi bagian dari soft power Indonesia. Yang tidak kalah penting, wastra juga merupakan elemen dari industri budaya dan ekonomi budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujarnya.

Fadli juga menekankan pentingnya transformasi museum agar lebih relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, museum harus menjadi etalase budaya sekaligus ruang edukasi yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menarik bagi pengunjung.

Karena itu, penguatan tata pamer, penyusunan narasi, pemanfaatan teknologi, hingga kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas budaya perlu terus diperkuat.

Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi museum-museum di Indonesia yang diselenggarakan secara bergilir untuk memperkuat kerja sama antarlembaga budaya.

Pameran ini juga bertujuan menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan generasi muda terhadap Wastra Nusantara, sehingga mendorong partisipasi dalam upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya di masa depan,” kata Ni Made.

Pameran “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” digelar di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo dengan menampilkan 85 koleksi utama dan 22 koleksi pendukung hasil kolaborasi 40 lembaga, yang terdiri atas 36 museum serta sejumlah institusi pendukung lainnya.

Selain menikmati koleksi kain tradisional dari berbagai daerah, masyarakat juga dapat mengikuti sejumlah kegiatan pendukung seperti seminar, talkshow, workshop, dan lomba desain selama pameran berlangsung.

Menutup sambutannya, Fadli berharap pameran tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap wastra Indonesia.

Ia berharap semakin banyak kain tradisional Indonesia yang dikenal di dunia internasional sehingga mampu memperkuat ekosistem wastra nasional dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya dari berbagai daerah.