DEPOK– Tawa dan nyanyian memenuhi aula Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta saat Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto hadir membagikan motivasi kepada puluhan anak binaan. Dalam suasana penuh kehangatan, Kak Seto mengajak mereka memandang kegagalan sebagai bagian dari proses menuju masa depan yang lebih baik.
Menulis
Kegiatan bertajuk “Kakak Bercerita Bersama Kak Seto” yang digelar Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) bersama Pokja Stop Stigma (Sinergi Sejuta Tangan) itu diikuti 37 anak binaan. Melalui cerita perjalanan hidupnya, Kak Seto menekankan bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan, namun selalu memiliki kesempatan untuk bangkit.
“Bukan hanya berani sukses, tetapi anak-anak juga harus berani gagal untuk kemudian bangkit kembali menjadi lebih hebat di masa depan,” kata Kak Seto, Senin (28/7).
Ia menegaskan setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Menurutnya, status sebagai anak binaan tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
“Semua anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat. Anak Binaan tetap anak-anak Indonesia yang harus dihargai, dihormati, dan percaya diri menyongsong masa depannya,” ujarnya.
Kak Seto juga mengapresiasi suasana pembinaan di LPKA Jakarta yang dinilainya ramah anak. Ia melihat para anak binaan tetap dapat mengekspresikan keceriaan melalui berbagai kegiatan pembinaan yang dijalani.
Tak hanya menyemangati anak binaan, Kak Seto turut mengajak para orang tua membuka kembali ruang penerimaan bagi anak-anak mereka setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Kami mengetuk pintu hati para orang tua agar menerima kembali anak-anak mereka dengan tangan terbuka dan hati terbuka. Mereka tetap memiliki masa depan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Daerah Khusus Jakarta, Wachid Wibowo, mengingatkan bahwa masa pembinaan harus dimanfaatkan sebagai momentum memperbaiki diri. Ia mendorong anak binaan tidak mengulangi kesalahan dan menjadikan pembinaan sebagai bekal kembali ke tengah masyarakat.
Perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Udi, juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjamin hak pendidikan bagi setiap anak, termasuk anak binaan.
“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, termasuk Anak Binaan. Kami berharap sinergi ini dapat memastikan mereka terus belajar dan mengembangkan potensi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, anak binaan menerima donasi buku cerita dan satu unit laptop sebagai sarana pendukung pembelajaran. Acara ditutup dengan makan bersama, permainan, dan bernyanyi yang menciptakan suasana akrab antara peserta dan para pendamping.
Melalui kegiatan ini, Ditjenpas menegaskan bahwa pembinaan anak bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan proses membangun karakter, memulihkan harapan, dan menyiapkan mereka kembali menjadi bagian dari masyarakat dengan masa depan yang lebih baik.













