TAJUKREPORTASE – COM – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan keprihatinan dan duka cita atas kebakaran yang melanda kawasan permukiman adat Suku Sasak di Desa Adat Sade, Dusun Sade 1, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Fadli menegaskan pemerintah perlu bergerak cepat untuk melindungi dan memulihkan Desa Adat Sade yang dinilai sebagai salah satu aset budaya nasional.
“Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Barat bergerak cepat melakukan koordinasi lapangan, pendataan dampak, serta menyusun peta tindak lanjut menyusul musibah kebakaran hebat yang melanda kawasan pemukiman tradisional Suku Sasak di Desa Adat Sade,” kata Fadli dalam keterangannya, Senin (24/8).
Kebakaran terjadi pada Sabtu (22/8) sekitar pukul 22.05 WITA. Berdasarkan informasi awal masyarakat, api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga di sekitar area Pohon Cinta yang berada di tengah permukiman, tidak jauh dari Masjid Tua.
Kebakaran diduga dipicu korsleting listrik akibat kondisi jaringan kabel yang saling berdempetan. Jarak antarrumah yang rapat serta penggunaan material atap berupa jerami atau alang-alang membuat api cepat menjalar dan sulit dikendalikan.
Berdasarkan pendataan awal, sebanyak 167 unit bangunan terdampak. Sebanyak 75 rumah adat dan 69 artshop atau toko kerajinan dilaporkan hangus terbakar.
Selain itu, delapan lumbung alang dan sejumlah bangunan tradisional seperti berugak sekepat serta berugak sekenam besar turut terdampak. Kebakaran juga mengenai satu masjid, satu Bale Beleq, satu toilet umum wisatawan, satu gerbang desa dan satu Pelonggo.
Tak hanya bangunan, kebakaran juga mengakibatkan hilangnya sejumlah benda pusaka dan warisan budaya masyarakat Sasak yang memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Berbagai jenis keris, tombak dan klewang ikut terbakar. Setiap keluarga rata-rata disebut kehilangan tiga hingga empat bilah keris yang tidak sempat diselamatkan.
Sebanyak 10 set peralatan seni Peresean juga terdampak. Dari delapan unit Gendang Beleq, empat unit berhasil diselamatkan. Sementara itu, Gong Tua yang digunakan dalam ritual serta sejumlah naskah kuno berbahasa Sanskerta dilaporkan musnah.
Fadli mengatakan penyelamatan warisan budaya menjadi prioritas pada tahap tanggap darurat.
“Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun non-fisik,” ujarnya.
Menurut dia, penyelamatan fisik dilakukan dengan menyisir reruntuhan untuk mencari sisa kain tenun atau wastra, benda pusaka seperti keris dan tombak, serta fragmen manuskrip kuno yang masih dapat diselamatkan.
Sementara itu, penyelamatan nonfisik dilakukan dengan mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal dan pengetahuan tradisional dari para tetua adat.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga memori kolektif masyarakat Sade yang ikut terancam hilang akibat kebakaran.
Sade Belum Masuk DAPOBUD
Desa Adat Sade diketahui telah diakui sebagai desa wisata sejak 1982 dan mendapat pengakuan Kementerian Pariwisata pada 1993 sebagai bagian penting dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.
Namun, penelusuran awal pascakebakaran menemukan Desa Adat Sade belum tercatat dalam Data Pokok Kebudayaan (DAPOBUD) Kabupaten Lombok Tengah.
Fadli mengatakan temuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pendataan dan pelindungan masyarakat adat serta warisan budaya di tingkat nasional.
“Kementerian Kebudayaan siap bergerak sebagai Wali Data Masyarakat Adat untuk segera mengintegrasikan dan meregistrasi seluruh cagar budaya serta wilayah masyarakat adat secara nasional agar memiliki payung hukum pelindungan yang lebih kuat,” kata Fadli.
Tiga Pilar Pemulihan
Kementerian Kebudayaan bersama pemerintah daerah dan pemangku adat setempat menyiapkan rekomendasi pemulihan Desa Adat Sade yang mencakup tiga pilar utama.
Pertama, pemulihan kondisi fisik desa melalui pemugaran bangunan dengan menggunakan bahan tradisional seperti kayu, bambu, ijuk dan alang-alang. Pemulihan juga akan dipadukan dengan penambahan fasilitas mitigasi dan pencegahan kebakaran.
Kedua, pemulihan kondisi perekonomian masyarakat melalui dukungan sarana dan prasarana ekonomi tradisional, termasuk penyediaan kembali alat tenun dan perlengkapannya bagi warga yang terdampak.
Ketiga, pemulihan objek pemajuan kebudayaan melalui rekonstruksi sejarah, termasuk upaya membuat duplikasi manuskrip kuno yang terbakar dengan memanfaatkan koleksi manuskrip sejenis yang tersimpan di Museum NTB.
Rencana pemulihan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama berupa tanggap darurat dengan fokus pengamanan lokasi dan penyelamatan material yang tersisa.
Tahap kedua mencakup asesmen dan dokumentasi, antara lain pengukuran arsitektur bangunan serta inventarisasi benda budaya. Selanjutnya, tahap ketiga diarahkan pada pelindungan dan pemulihan kawasan serta warisan budaya Desa Adat Sade.
Pemerintah juga akan mendorong penguatan mitigasi kebakaran agar kejadian serupa tidak kembali mengancam kawasan permukiman tradisional dan warisan budaya masyarakat Sasak.












