TAJUKREPORTASE COM – JAKARTA –Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mendorong penguatan kemandirian industri obat dalam negeri dengan mengoptimalkan kekayaan hayati Indonesia yang dipadukan dengan riset dan kemajuan bioteknologi.
Hal itu disampaikan Pratikno saat memberikan arahan dalam Forum Menenun Kebijakan mengenai diseminasi dan konsultasi analisis kebijakan obat dan makanan di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Jakarta, Senin (15/9).
Pratikno mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap produk kesehatan impor perlu terus ditekan. Menurutnya, kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi modal penting untuk membangun industri kesehatan yang mandiri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita mendukung penuh kemandirian industri obat dalam negeri. Indonesia mempunyai kekayaan hayati yang luar biasa, dan ini adalah modal yang sangat penting agar industri kita bisa mandiri,” ujar Pratikno.
Ia menilai penguatan riset menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan kemandirian industri obat, terutama di tengah perkembangan bioteknologi yang semakin pesat.
Menurut Pratikno, pengembangan industri farmasi nasional juga harus diikuti dengan tata kelola serta sistem pengawasan yang kuat. Dalam hal ini, ia mengapresiasi peran BPOM dalam memastikan keamanan, mutu, dan khasiat produk obat serta makanan dari hulu hingga hilir.
“Tugas BPOM sangat penting dalam mengawal keamanan, mutu, dan khasiat produk. Karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara kementerian dan lembaga,” katanya.
Selain sisi produksi dan pengawasan, Pratikno menyoroti pentingnya perlindungan konsumen. Menurutnya, masifnya iklan produk obat dan makanan melalui platform digital membuat masyarakat perlu memiliki literasi kesehatan yang memadai agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Ia pun mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat agar peningkatan usia harapan hidup di Indonesia turut diiringi dengan kualitas hidup yang lebih baik.
“Oleh karena itu, marilah bersama meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar bukan hanya harapan hidup yang lebih panjang, tetapi harapan hidup sehat dan aktif yang lebih panjang,” ujar Pratikno.
Forum tersebut turut dihadiri Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi, Gubernur Universitas Republik Indonesia Donny Ermawan Taufanto, serta perwakilan kementerian/lembaga, akademisi, dan praktisi kebijakan terkait.














