TAJUKREPORTASE COM – CIANJUR — Di tengah sorotan terhadap dunia pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cianjur menghadirkan pelayanan yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Melalui program Kunjungan Lansia, warga binaan yang selama ini terkendala kondisi kesehatan dan keterbatasan fisik, kini mendapatkan kesempatan bertemu keluarga dengan lebih mudah.
Program yang digelar setiap Minggu pertama dan keempat ini, menjadi ruang bagi warga binaan untuk kembali merasakan kehangatan keluarga.
Bahkan, ada warga binaan yang disebut telah sekitar lima tahun tidak bertemu orang-orang tercinta.
Momen pertemuan pun berlangsung haru. Pelukan, percakapan, dan kehadiran keluarga menjadi penyemangat bagi mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, pelaksanaan program memasuki pekan kedua. Kepala Lapas Cianjur, Prayogo Mubarak, S-H, M-H, turun langsung memastikan pelayanan berjalan dengan baik.
Menurut Prayogo, program ini ditujukan untuk membantu warga binaan yang sulit menerima kunjungan karena kondisi kesehatan, keterbatasan mobilitas, maupun keluarga yang sudah lanjut usia.
Bahkan, pihak lapas menyediakan fasilitas penjemputan dan pengantaran bagi keluarga yang membutuhkan.
Pelayanan tersebut dirasakan langsung Rusmiati, ibu dari warga binaan bernama Firly.
Ia mengaku sangat terbantu karena kondisi kesehatannya terkadang membuat perjalanan untuk membesuk anak menjadi sulit.
Rusmiati menyampaikan terima kasih atas perhatian dan fasilitas yang diberikan pihak lapas.
Sementara itu, kebahagiaan juga dirasakan Mukdas, warga binaan yang tengah menjalani hukuman dua tahun enam bulan.
Kesempatan bertemu keluarga menjadi pengalaman berharga sekaligus memberikan semangat baru selama menjalani pembinaan.
Tak hanya menghadirkan pelayanan keluarga, Lapas Cianjur juga memperkuat pembinaan kepribadian melalui program Wajib Santri.
Bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Cianjur, warga binaan mendapatkan pembelajaran membaca Al-Qur’an, Iqra, tahfiz, hingga qiraat.
Kegiatan pengajian dilaksanakan empat kali dalam sepekan, mulai Senin hingga Kamis.
Pembinaan juga melibatkan tenaga pengajar, termasuk mantan warga binaan yang kini turut berperan sebagai pengajar keagamaan.
Di bidang kemandirian, Lapas Cianjur mengembangkan program UMKM dan ketahanan pangan.
Mulai dari peternakan ayam petelur, ayam pedaging, domba, hingga pertanian dan perikanan.
Bahkan, pengelolaan lahan sekitar enam koma lima hektare di wilayah Campaka turut melibatkan masyarakat sekitar, termasuk warga yang ingin membantu perekonomian keluarga.
Dukungan pemerintah daerah juga hadir melalui pendidikan, perpustakaan, serta pelayanan kesehatan dari puskesmas dan RSUD.
Pemeriksaan kesehatan hingga skrining TBC dan HIV menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan warga binaan.
Namun, di balik berbagai program tersebut, Lapas Cianjur masih menghadapi persoalan kelebihan kapasitas.
Jumlah warga binaan mencapai 866 orang, sementara daya tampung hanya 493 orang.
Meski demikian, pihak lapas terus berupaya memaksimalkan pelayanan, termasuk menyediakan blok khusus lansia dan kamar bebas asap rokok.
Prayogo menegaskan, program Kunjungan Lansia akan terus dikembangkan dengan mendata keluarga yang memiliki keterbatasan usia maupun kesehatan.
Bagi Lapas Cianjur, pembinaan bukan sekadar menjalani hukuman.
Tetapi juga membangun kembali hubungan keluarga, memperkuat kepribadian, serta membekali warga binaan dengan keterampilan agar siap kembali ke masyarakat.
Sebab, bagi mereka yang bertahun-tahun terpisah dari keluarga, sebuah kunjungan bukan sekadar pertemuan.
Melainkan harapan, dukungan, dan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.















