Prabowo Dorong BRICS Perkuat Pembangunan Global yang Inklusif

TAJUKREPORTASE – COM – NEW DELHI – Presiden RI Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama untuk mewujudkan pembangunan global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, Senin (14/9). Prabowo mengikuti sesi bertema “Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth.”

Berbeda dengan hari pertama yang dikhususkan bagi negara anggota penuh BRICS, sesi hari kedua melibatkan Partner Countries, negara-negara Outreach, serta sejumlah organisasi internasional.

Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan pentingnya membangun keterkaitan antara kebijakan pembangunan berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, dan pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, ketiga agenda tersebut perlu ditempatkan dalam satu kerangka kebijakan yang saling memperkuat agar hasil pembangunan mampu bertahan menghadapi berbagai risiko dan tantangan di masa depan.

Indonesia menilai ketahanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan. Berbagai capaian pembangunan yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat mengalami kemunduran ketika menghadapi bencana alam maupun dampak perubahan iklim.

Pengalaman Indonesia, termasuk bencana yang terjadi di Aceh, menjadi salah satu contoh dampak bencana terhadap masyarakat, infrastruktur, dan capaian pembangunan.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga menghadapi risiko jangka panjang akibat perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan air laut yang berpotensi memengaruhi masyarakat dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir.

Karena itu, pembangunan berkelanjutan dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus mampu memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus melindungi hasil pembangunan dari berbagai risiko di masa depan.

Selain ketahanan, Prabowo menekankan pentingnya memastikan pembangunan global berlangsung secara inklusif. Berbagai agenda dan inisiatif BRICS diharapkan memberikan manfaat nyata, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi dan pembangunan.

Kemajuan teknologi dan transformasi digital dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperluas manfaat pembangunan. Teknologi digital dapat membuka akses terhadap layanan, meningkatkan produktivitas, memperkuat konektivitas, serta menjangkau masyarakat yang selama ini belum memperoleh manfaat pembangunan secara optimal.

Namun, transformasi digital juga harus dilakukan secara inklusif agar kemajuan teknologi tidak justru memperlebar kesenjangan.

“Pembangunan yang tangguh harus inklusif. Kemajuan yang kita capai harus dapat dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan. Teknologi dan inovasi perlu kita manfaatkan untuk memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Dorong BRICS Bahas Agenda Pasca-2030
Indonesia juga mendorong BRICS mulai berperan aktif dalam diskusi dan negosiasi mengenai arah agenda pembangunan global setelah 2030.

Hal tersebut dinilai penting mengingat tahun 2030 semakin dekat sebagai batas waktu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Indonesia memandang keterlibatan BRICS diperlukan untuk memastikan perspektif dan kepentingan negara berkembang turut menjadi bagian dalam pembentukan kerangka pembangunan global berikutnya.

Dengan cakupan populasi dan kekuatan ekonomi negara-negara anggotanya, BRICS dinilai memiliki posisi strategis untuk menyuarakan aspirasi negara berkembang sekaligus berkontribusi terhadap pembentukan agenda pembangunan global yang lebih inklusif.

Indonesia juga mendorong agar BRICS tidak hanya menjadi forum untuk membahas berbagai persoalan pembangunan, tetapi mampu menghasilkan kerja sama konkret yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan tema Keketuaan India, “Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability,” yang menempatkan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan sebagai fondasi menghadapi tantangan global.

Melalui keikutsertaannya dalam KTT BRICS 2026, Indonesia menegaskan komitmen menjadi mitra aktif dalam mendorong kerja sama internasional yang berorientasi pada pembangunan tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam KTT BRICS 2026, Prabowo turut didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Sementara itu, Menko Airlangga didampingi Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso.

error: Content is protected !!