Fri. Oct 30th, 2020

Fadli Zon dan Bamsoet Persilakan Pewaris HB II Minta Inggris Balikan Harta Rampasan dari Raja Yogyakarta

4 min read
Bagikan Berita

4,937 total views, 4 views today

tajukreportase.com – Jakarta, Keluarga besar keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Trah HB II) gerah dengan pernyataan yang diucapkan Sejarahwan Inggris Peter Carey dalam acara Webinar Forum Sejarah Jejak Peradaban: Menggali Warisan Membangun Masa Depan Sri Sultan Hamengkubuwono II pada tanggal 5-9 Oktober 2020 lalu.

Melalui Sekretaris Pelaksana Pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono II Pahlawan Nasional, Bagoes Fajar Poetranto menyebutkan Inggris harus meminta maaf pada pihak Keraton Yogyakarta, terutama pada para keturunan Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Bagoes Poetranto menyebutkan pernyataan Peter Carey yang menyatakan peristiwa penyerangan pasukan Inggris yang dikenal dengan Geger Spehi ke Keraton merupakan suatu peristiwa yang harus dimaklumi pada saat masa perang atau masa kolonial.

Terkait hal itu Bagoes bersikap bahwa apa yang disebutkan Peter Carey sangat disayangkan dan membuaat luka para Trah Hamengkubuwono II.

“Penyerbuan inggris dan Sepoy ke Keraton Yogya adalah hal yang biasa dan harus dimaklumi oleh keluarga Trah HB II. Karena pertama situasi perang dan pihak Inggris perlu logistik untuk pasukannya. Pada saat itu Keraton Yogya mempunyai harta benda yang besar,” kata Bagoes mengutip pernyataan Carey di Webinar.

Ditambahkan Bagoes Poetranto selain itu Inggris juga harus mengembalikan aset HB II yang dirampas saat terjadinya Geger Sepehi, yang mengakibatkan tewasnya para pejuang keraton dan kerabat Sri Sultan Hamengkubuwono II. Salah satu yang tewas adalah KRT Sumadiningrat, panglima pasukan keraton dan Ratu Kedaton.

“Pernyataan Carey saat di webinar yang menyebutkan pihak Inggris tidak perlu meminta maaf dan mengembalikan harta rampasan saat itu tidaklah obyektif dan kita diminta memakluminya. Selain itu kami juga tak sependapat bahwa pengasingan Eyang Sepuh HB II ke Penang merupakan salah satu bentuk pemaafan dari pihak Inggris,” kata Bagoes Poetranto.

Kemudian Bagoes Poetranto mengutip pendapat Carey yang menyebutkan, “Inggris sampaikan tidak ada hal yg harus dimaafkan dan Inggris asingkan Eyang Sepuh ke Penang sebagai bentuk pengampunan dan belas kasihan Raffles kepada Eyang Sepuh. Karena seharusnya Eyang Sepuh dihukum mati karena melawan Inggris.”

Sambung Bagoes Poetranto menurut deklarasi PBB saat ini apa yang dilakukan oleh pihak atau bangsa kolonial merupakan kejahatan yang besar yang dilarang. Dan menurut pembicara lain dalam webinar tersebut, KRT Manu W Padmadipura Wangsawikrama, seorang Filolog menyebutkan, apa yang dilakukan Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengku Buwono II pada saat itu untuk mempertahankan wilayah, kehormatan, harkat dan martabat sebagai Raja sangatlah wajar.

Eyang Sepuh HB II menjalankan fungsinya sebagai Raja yang melindungi wilayah dan rakyatnya dari gangguan para penjajah kolonial. Jadi Eyang Sepuh itu sudah selayaknya disebut sebagai Pahlawan Nasional.

Tapi pada saat kolonial, sambung Manu, yang dilakukan oleh Eyang Sepuh Sri Sultan Hamengku Buwono II menganggap Eyang Sepuh sebagai pembangkang dan penjahat.

Dalam webinar tersebut juga mengungkap kitab pusaka keraton Yogyakarta yang ditulis oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II, Serat Suryorojo.

Di dalamnya mengupas tentang kearifan seorang Sultan dalam memimpin rakyatnya. Tidak hanya di bidang politik dan pemerintahan, tetapi juga masalah lain seperti pertanian, seni dan budaya, termasuk sastra dan seni tari.

“Jadi ini (kitab,-red) sebetulnya adalah pedoman, bagaimana seorang raja itu memerintah negerinya dengan baik. Kosmologi yang merupakan salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan sampai kemunculan kepemimpinan masa depan,” katanya.

Trah HB II menurut Bagoes dalam waktu dekat ini akan melakukan langkah secara resmi ke lembaga yang berwenang melalui yayasan. Apalagi menurut Bagoes Pimpinan MPR RI Bambang Soesatyo dan Anggota DPR Fadli Zon mendukung upaya para Trah HB II untuk meminta Sri Sultan Hamengku Buwono II menjadi Pahlawan Nasional.

Selain itu mereka juga mendukung langkah para Trah HB II untuk meminta pihak Inggris mengucapkan permohonan maaf dan pengembalian harta benda milik Keraton di saat Sri Sultan Hamengkubuwono II saat menjadi Raja.

Aset keraton selain emas, aset budaya seperti keris, manuskrip, artefak, koleksi wayang untuk dikembalikan ke pihak Keraton sewaktu terjadi Perang Sepehi. Ingris juga merampas pedang dan cundrik yang tak pernah kembali dan diberikan Thomas Stanford Raffles kepada Lord Minto di India. Persembahan itu adalah bukti takluk Keraton Yogyakarta kepada Inggris.

Tak hanya senjata, Inggris juga menjarah gamelan, wayang, ribuan kitab-kitab sejarah Jawa, serta naskah-naskah daftar tanah. Pustaka-pustaka keraton hingga saat ini tak pernah kembali ke Jawa. Di antaranya termasuk 55 naskah yang dicuri Raffles yang sebagian diserahkan kepada Royal Asiatic Society pada tahun 1830.

Belum lagi yang ada pada Colin Mackenzie yang memiliki 66 naskah sedangkan John Crafurd yang merampas 45 naskah sebagian besar dijual kepada British Museum di tahun 1842.

Bagoes Poetranto mengungkapkan pihaknya menuntut pada pihak Inggris untuk secara resmi meminta maaf kepada Kesultanan Yogyakarta khususnya Trah Sri Sultan Hamengkubuwono II saat peristiwa perang atau Geger Sepehi tahun 1812. Karena dalam peristiwa tersebut pihak Inggris melakukan penghinaan dan melecehkan harkat martabat Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Editor: hy/hz/wid/foto: ist
Publish: wd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − four =